di dalam jaringa TCP/IP setiap terminal diidentifikasi dengan sebuah alamat IP unik, kecuali router dapat memiliki lebih dari sebuah alamat IP. karena itu disebut multithomed device.
di asia pasifik pengelolaan ip dilakukan oleh asia pasifik network information center (APNIC).
sedangkan koordinasi badan pengalamatan ip seluruh dunia adalah international assigned number authority (IANA).
badan ini mengatur sebagai pembagi blok nomor ip dan nomor autonomus kepada para ISP, selain itu juga mengelola authoritative registration server(whois) dan reverse domains (in.addr.arpa).
konversi biner - desimal
setiap 8 bit nomor ip dapat dikonversi ke desimal dengan cara
x*2pangkat7+x*2pangkat6+x*2pangkat5+x*2pangkat4+x*2pangkat3+x*2pangkat2+x*2pangkat1+x*pangkat0
contoh
sehingga untuk menghitung bentuk desimal dari 11001011 dapat dilakukan dengan
1*128+1*64+0*32+0*16+1*8+0*4+1*2+1*1=203
dan cara menghitung dari desimal ke biner dapat dilakukan seperti ini
contoh
203-128=75 > 1
75-64=11 > 1
11-32= > 0
11-16= > 0
11-8=3 > 1
3-4= > 0
3-2= 1 > 1
1-1= 0 >1
disini angka 1 adalah jika pngurangan berhasil dilakukan, dan 0 adalah hasil yang tidak bisa dikurangi.
Subnetting adalah proses membagi sebuah network menjadi beberapa sub-network.
ada 3 cara pengalamatan ip
1. classfull addressing (convetional): pengalamatan berdasarkan kelas, tanpa perlu ada subnetting.
2. subnetting classfull addressing :pengalamatan dengan subnetting
3. classless addressing : CIDR
mengapa dibutuhkan subneting
1. memudahkan pengelolaan jaringan
2. mereduksi traffic yang disebabkan oleh broadcast maupun benturan (collision).
3. membantu pengembangan jaringan ke jarak geografis yang lebih jauh (LAN ke MAN).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar